Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan

Surat Umar bin Khotob r.a kepada Sungai Nil

Surat Umar bin Khotob r.a kepada Sungai Nil

Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin kepada Sungai Nil. Amma ba’du. Jika engkau mengalir karena kemauanmu, janganlah engkau mengalir. Tetapi jika engkau mengalir karena diperintah oleh Allah, maka aku mohon kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa agar menjadikanmu mengalir.’

Itulah isi surat dari Umar bin Khotob r.a. kepada Sungai Nil. Nah, lho seorang Khalifah kok kirim surat ke sungai. Emang apa hubungannya Amirul Mukminin dengan Sungai Nil. Emang Sungai Nil bisa membaca surat darinya? Ini bukan khurafat ataupun tahayul. Ini adalah kelebihan atau karomah yang dimiliki oleh Sayyidina Umar bin Khotob. Bagaimana kisahnya?

Pada masa pemerintahan Umar bin Khotob, Mesir berhasil ditaklukan dan beliau menempatkan Amr bin Ash sebagai gubernur. Dalam masa inilah terjadi kekeringan, sungai Nil berhenti mengalirkan airnya dengan cukup lama, sehingga kekeringan terjadi dan rakyat menderita.

Sesuai tradisi jahiliyah Mesir, kalau sungai nil mengalami kekeringan maka akan diadakan upacara pengorbanan seorang perawan yang dibunuh dan buang ke sungai nil agar sungai nil mau mengalirkan airnya kembali.

Ketika mesir sudah ada dalam taklukan Khalifah Umar bin Khotob maka tradisi itu dihapuskan. Kemudian penduduk Mesir kemudian mendatangi Amr bin Ash dan melaporkan bahwa sungai Nil kering sehingga diberi tumbal dengan melempar seorang perawan.

Kemudian Amr bin Ash r.a berkata kepada mereka,
"Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut."

Maka penduduk Mesir bertahan selama tiga bulan dengan tidak mengalirnya sungai Nil, sehingga mereka benar-benar menderita.
Amr menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menceritakan peristiwa tersebut. Dalam surat jawaban itu Umar menyatakan,
"Engkau benar bahwa Islam telah mengahapus tradisi tersebut. Aku menirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil."

Sungai Nil Mengalirkan Kembali Airnya
Kemudian Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparkannya ke sungai Nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan Khalifah Umar bin Khattab untuk sungai Nil di Mesir. Isi surat tersebut adalah,

Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin kepada Sungai Nil. Amma ba’du. Jika engkau mengalir karena kemauanmu, janganlah engkau mengalir. Tetapi jika engkau mengalir karena diperintah oleh Allah, maka aku mohon kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa agar menjadikanmu mengalir.’

Kemudian Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-benar terjadi. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, ternyata Allah SWT telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam.

Subhanalloh….
Allohu akbar….
Inilah karomah orang sholeh…

Sejarah dan Keutamaan Hari Jumat

Sejarah Hari Jum’at dan Keutamaan Hari Jum’at - Jum'at adalah sayyidul ayyam. Artinya Jum’at mempunyai keistemewaan dibandingkan hari lain. Jika nama-nama hari yang lain menunjukkan urutan angka (ahad artinya hari pertama, itsnain atau senin adalah hari kedua, tsulatsa atau selasa adalah hari ketiga, arbi’a atau Rabu adalah hari keempat dan khamis atau kamis adalah hari kelima), maka Jum’at adalah jumlah dari kesemuanya.

Menurut sebagian riwayat kata Jum’at diambil dari kata jama’a yang artinya berkumpul. Yaitu hari perjumpaan atau hari bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah. Kata Jum’at juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan kebaikan –shalat Jum’at-.

Salah satu bukti keistimewaan hari Jum’at adalah disyariatkannya sholat Jum’at. Yaitu shalat dhuhur berjamaah pada hari Jum’at. -Jum’atan-. Bahkan mandinya hari Jum’at pun mengandung unsur ibadah, karena hukumnya sunnah.

Dalam Al-Hawi Kabir karya al-Mawardi, Imam Syafi’i menjelaskan sunnahnya mandi pada hari Jum’at. Meskipun sholat Jum’at dilaksanakan pada waktu sholat dhuhur, namun mandi Jum’at boleh dilakukan semenjak dini hari, setelah terbit fajar. Salah satu hadits menerangkan bahwa siapa yang mandi pada hari Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at, maka Allah akan mengampuni dosa di antara dua Jum’at.

Oleh karena itu, baiknya kita selalu menyertakan niat setiap mandi di pagi hari Jum’at. Karena hal itu akan memberikan nilai ibadah pada mandi kita. Inilah yang membedakan mandi di pagi hari Jum’at dengan mandi-mandi yang lain.

Empat Puluh Orang
Shalat Jum’at -Jum’atan- bisa dianggap sebagai muktamar mingguan –mu’tamar usbu’iy- yang mempunyai nilai kemasyarakatan sangat tinggi. Karena pada hari Jum’at inilah umat muslim dalam satu daerah tertentu dipertemukan.

Mereka dapat saling berjumpa, bersilaturrahim, bertegur sapa, saling menjalin keakraban. Dalam kehidupan desa Jum’atan dapat dijadikan sebagai wahana anjangsana. Mereka yang mukim di daerah barat bisa bertemu dengan kelompok timur dan sebagainya.

Begitu pula dalam lingkup perkotaan, Jum’atan ternyata mampu menjalin kebersamaan antar karyawan. Mereka yang setiap harinya sibuk bekerja di lantai enam, bisa bertemu sesama karyawan yang hari-harinya bekerja di lantai tiga dan seterusnya.

Kebersamaan dan silaturrahim ini tentunya sulit terjadi jikalau Jum’atan boleh dilakukan seorang diri seperti pendapat Ibnu Hazm, atau cukup dengan dua orang saja seperti qaul-nya Imam Nakho’i, atau pendapat Imam Hanafi yang memperbolehkan Jum’atan dengan tiga orang saja berikut Imamnya.

Oleh sebab itu menurut Imam Syafi’i Jum’atan bisa dianggap sah jika diikuti oleh empat puluh orang lelaki. Dengan kat lain, penentuan empat puluh lelaki sebagai syarat sah sholat Jum’at oleh Imam Syafi’i memiliki faedah yang luar bisa.

Hal ini membuktikan betapa epistemogi aswaja -ahlussunnah wal jama’ah- yang dipraktikkan oleh Imam Syafi’i selalu mendahulukan kepentingan bersama. Kebersamaan dan persatuan umat dalam pola pikir aswaja -ahlussunnah wal jama’ah- adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya dalam ranah aqidah dan politik saja, tetapi juga dalam konteks ibadah. (Ulil Hadrawi)


Sumber  : http://www.nu.or.id/

Contoh Khutbah Idul Adha 1432 H : Bergerak dan Berkorban Dalam Kebenaran

Contoh Khutbah Idul Adha 1432 H – Buat para saudaraku muslim yang sedang mencari contoh khutbah Idul Adha mungkin ini bisa sebagai referensi dalam menyusun khutbah idul adha 1432 H di tempat saudara. Namun sebelum saya menyajikannya di sini, terlebih dahulu saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H, semoga kita bisa berkurban dalam arti yang sesungguhnya. Oke di sini saya sajikan dua judul sekaligus. Yang pertama saya sajikan dalam bentuk teks yang bisa anda copy paste dari halaman ini, dan yang kedua dalam bentuk link download. Silakan anda baca sampai ke bawah untuk mendownload judul khutbah yang satunya lagi.

Khutbah Idul Adha 1 : Bergerak dan Berkorban Dalam Kebenaran
Oleh : Drs. Ahmad Yani
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
dakwatuna.com - Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.
Shalawat dan salah semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Salah satu yang amat kita butuhkan dalam menjalani kehidupan yang  baik adalah keteladanan dari figur-figur yang bisa diteladani. Dengan adanya keteladanan, kita memiliki tolok ukur untuk menilai apakah perjalanan hidup kita sudah baik atau belum. Karena itu, hari ini kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah swt untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarga Ismail as dan Siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad saw harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah swt berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).
Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia serta mengambil hikmah dari pelaksanaan ibadah haji yang sedang berlangsung di tanah suci, dalam kesempatan khutbah yang singkat ini ada empat hikmah yang menjadi isyarat bagi kaum muslimin untuk mewujudkannya dalam kehidupan ini, apalagi bagi kita bangsa Indonesia yang masih terus berjuang untuk mengatasi berbagai persoalan besar yang menghantui kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pertama, Tinggalkan Yang Haram, dan Lakukan Yang Halal. Sebagaimana kita ketahui, ibadah haji dimulai dengan ihram dan diakhiri dengan tahallul. Saat ihram, pakaian yang dikenakan jamaah adalah kain putih tak berjahit, yang melambangkan kain kafan yang nanti akan dikenakan di sekujur tubuhnya ketika akan kembali kepada Allah swt pada saat kematiannya. Pakaian ihram yang putih-putih itu juga melambangkan tidak adanya perbedaan di mata Allah di antara sesama manusia. Segala perbedaan harus ditanggalkan dalam arti jangan sampai memiliki fanatisme secara berlebihan seperti perbedaan suku, organisasi, partai politik, paham, status sosial, ekonomi atau profesi. Kesatuan dan persamaan merupakan sesuatu yang harus diutamakan dalam upaya menegakkan kebenaran, bahkan siap mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya. Pakaian ihram juga melambangkan kesiapan berdisiplin dalam menjalankan kehidupan sebagaimana yang ditentukan Allah swt, hal ini karena selama berihram, jamaah haji memang berhadapan dengan sejumlah ketentuan, ada yang boleh dan ada yang tidak boleh dilakukan. Dengan demikian, seorang haji semestinya selalu disiplin menjalankan syariat Islam dan siapa pun yang menjalankan syariat Islam mendapat kedudukan yang terhormat, karena kehormatan manusia bukanlah terletak pada pakaiannya, tapi pada ketaqwaannya di hadapan Allah swt. Bila ihram maknanya adalah pengharaman dan tahallul maknanya adalah penghalalan, maka seorang haji siap meninggalkan yang diharamkan Allah swt dan hanya mau melakukan sesuatu bila memang dihalalkan. Ini merupakan prinsip yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim, bahkan setiap manusia. Karena itu amat tercela bila ada orang ingin mendapatkan sesuatu yang tidak halal dengan memanfaatkan jalur hukum sekadar untuk mendapatkan legalitas hukum agar terkesan menjadi halal, padahal keputusan hakim sekalipun tetap saja tidak bisa mengubah sesuatu yang tidak halal menjadi halal, Allah swt melarang keras hal ini dalam firman-Nya:
وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ 
Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS Al Baqarah [2]:188).
Allahu Akbar 3X Walillahilmamdu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Kedua, hikmah yang harus kita raih adalah Bergerak Untuk Kebaikan dan Berkorban. Ibadah haji merupakan ibadah bergerak. Para jamaah bergerak dari rumahnya menuju ke asrama haji, hanya beberapa jam di asrama haji, para jamaah harus bergerak lagi menuju Bandara, sesudah naik pesawat, mereka diterbangkan menuju bandara King Abdul Aziz, Jeddah, dari Jeddah para jamaah harus bergerak lagi menuju Madinah bagi jamaah gelombang pertama untuk selanjutnya Menuju Mekah, sedangkan bagi jamaah gelombang kedua para jamah langsung ke Mekah. Di sana jamaah langsung menunaikan umrah hingga tahallul. Selama beberapa hari di Mekah, para jamaah sudah harus bergerak lagi untuk melaksanakan puncak ibadah haji, mereka harus bergerak lagi menuju Arafah untuk wuquf, malam harinya menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu, keesokan harinya melontar di Mina, Tawaf ifadhah di Mekah, kembali lagi ke Mina untuk melontar hingga selesai, lalu kembali lagi ke Mekah untuk bersiap meninggalkan Mekah menuju Tanah air masing-masing dan sebelum meninggalkan Mekah, para jamaah bergerak lagi untuk melakukan tawaf wada, yakni tawaf perpisahan dengan Ka’bah. Dari rangkaian ibadah haji, puncak kesulitan bahkan resiko yang paling besar adalah saat melontar yang melambangkan perlawanan atau peperangan melawan syaitan.
Dari rangkaian ibadah haji, kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap muslim apalagi mereka yang sudah menunaikan haji seharusnya mau bergerak dan menjadi tokoh-tokoh pergerakan untuk memperbaiki keadaan dan kualitas umat Islam. Setiap muslim harus bergerak untuk mencari nafkah, bergerak mencari ilmu, bergerak untuk menyebarkan, menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, bergerak untuk memberantas kemaksiatan dan kemunkaran. Ini semua menunjukkan bahwa seorang muslim jangan sampai menjadi orang yang pasif, diam saja menerima kenyataan yang tidak baik, apalagi bila hal itu dilakukan dengan dalih tawakkal, padahal tawakkal itu adalah berserah diri kepada Allah swt atas apa yang akan diperoleh sesudah berusaha secara maksimal.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah swt.
Ketiga, Jadikan masjid sebagai Pusat pergerakan. Ibadah haji dan rangkaian ibadah lainnya berpusat di masjid. Ketika jamaah haji kita mendapat kesempatan untuk berziarah ke Madinah, maka seluruh jamaah berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat berjamaah yang lima waktu di masjid Nabawi, bahkan sampai ditargetkan mencapai angka arbain (40) waktu meskipun hal ini tidak menjadi bagian dari ibadah haji. Oleh karena itu, sebagai muslim setiap kita harus memiliki ikatan batin dengan masjid yang membuat kita mau mendatangi masjid setiap hari untuk melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah, khususnya bagi laki-laki, ikatan batin kita yang kuat kepada masjid membuat kita akan menjadi orang yang dinaungi Allah swt pada hari kiamat, Rasulullah saw bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ اِلاَّظِلُّهُ:..وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَاخَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ اِلَيْهِ.
Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: …seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu aneh sekali bila ada lelaki muslim tapi sehari-hari tidak suka dan tidak mau datang ke masjid. Karena tidak mau dipertanyakan keimanannya benar apa tidak, maka pada zaman Nabi Muhammad saw, orang munafik yang sudah mengaku beriman pun akhirnya datang juga ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, namun hati mereka terasa berat dan malas, Allah swt berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً   
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS An Nisa [4]:142).
Bila setiap lelaki muslim saja harus berusaha untuk selalu menunaikan shalat berjamaah di masjid, apalagi bila ia sudah melaksanakan ibadah haji. Karena seorang haji yang sudah menyempurnakan keislamannya seharusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat di sekitarnya.
Pelajaran Keempat, yang kita peroleh dari Nabi Ibrahim as adalah keinginannya yang amat besar untuk memiliki ilmu, menjadi pribadi yang shalih dan menjadi bahan pembicaraan yang baik bagi generasi yang akan datang, hal ini tercermin dalam doanya yang disebutkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:
رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي اْلآخِرِينَ
(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, (QS As Syu’ara [26]:83-84)
Dalam tafsir Al Mishbah, kata hukman dipahami oleh al-Biqai berarti amal ilmiah, yakni amal yang baik berdasar ilmu. Sungguh sangat mulia pada diri Nabi Ibrahim yang berdoa meminta ilmu dan pemahaman agar selalu menjalani kehidupannya di jalan Allah swt. Namun yang amat disayangkan adalah banyak orang yang meminta ilmu kepada Allah, bahkan sampai memiliki gelar kesarjanaan tertinggi tetapi ilmu tersebut diamalkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan malah mendatangkan dosa. Karena itu dengan ilmu manusia bisa saja masuk surga dengan selamat dan dengan ilmu juga manusia bisa saja masuk neraka jika ilmunya digunakan untuk hal-hal yang negatif, bahkan memperoleh siksa yang lebih dahsyat, Rasulullah saw bersabda:
اَشَدُّ النَّّّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ
Orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak dimanfaatkannya (HR. Thabrani dari Abu Hurairah ra).
Hal yang luar biasa dari doa Nabi Ibrahim di atas adalah beliau meminta kepada Allah swt agar dimasukkan ke dalam golongan orang yang shalih, padahal seorang Nabi sudah pasti shalih, tapi masih saja ia berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih, ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi shalih dan beliau tidaklah merasa tinggi hati dengan keshalihannya hingga akhirnya ia tetaplah berdoa meminta dimasukkan ke dalam golongan orang yang shalih. M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an menyatakan bahwa; Kata shalih terambil dari akar kata shaluha yang merupakan lawan dari fasid (rusak). Dengan demikian shalih diartikan dengan tiada atau terhentinya kerusakan. Shalih juga diartikan sebagai bermanfaat dan sesuai. Amal shalih adalah pekerjaan yang apabila dilakukan tidak menyebabkan dan mengakibatkan mudharat (kerusakan) atau bila pekerjaan itu dilakukan akan diperoleh manfaat dan kesesuaian (hal 562).
Selanjutnya, Muhammad Abduh seperti yang dikutip oleh Quraish Shihab menyatakan bahwa amal shalih adalah segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok dan manusia secara keseluruhan. Dengan demikian, orang yang shalih adalah orang yang menjalani kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Allah swt dan Rasul-Nya sehingga memberi manfaat kebaikan dan tidak mengakibatkan kerusakan atau kemudharatan bagi dirinya dan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Begitu penting menjadi shalih, sehingga selain Nabi Ibrahim, jauh sebelumnya Nabi Sulaiman as juga berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih, Allah swt berfirman:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَى وَالِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ
Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu, dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilmu untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih (QS An Naml [27]:19).
Doa ketiga dari Nabi Ibrahim as yaitu agar menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Tentu sebagai seorang nabi, Ibrahim as tidak berucap atau bertindak yang buruk kepada keluarga dan kaumnya, meskipun begitu beliau khawatir bila ada saja orang yang membicarakan keburukannya. Oleh karena itu, kesempatan hidup kita yang amat terbatas ini harus kita gunakan untuk membuat sejarah hidup yang mulia sehingga menjadi bahan pembicaraan yang baik saat kita sudah wafat, bukan karena kita ingin mendapat pujian, tapi karena memang hanya kebaikan yang boleh dibicarakan tentang orang yang sudah mati, namun bila tidak ada kebaikan yang bisa dibicarakan, lalu apa yang akan orang bicarakan tentang kita. Karena itu menjadi penting bagi kita untuk merenungi kira-kira bila kita sudah mati, apa yang orang bicarakan tentang kita, tentu seharusnya kebaikan dan manfaat hidup kita yang mereka rasakan, bukan karena kita suka menceritakannya kebaikan kita kepada orang lain. Manusia terbaik adalah yang paling bisa dirasakan manfaat keberadaannya oleh orang lain, Rasulullah saw bersabda:
خَيْرُالنَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ  
Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudha’i dari Jabir ra).
Dari uraian di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa meneladani Nabi Ibrahim as dan Nabi Muhammad saw serta mengambil hikmah dari ibadah haji menuntut kita untuk selalu berusaha memperbaiki diri dan keluarga serta memperbaiki orang lain untuk selanjutnya terus bergerak dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dan mau berkorban untuk mencapainya.
Akhirnya marilah kita tutup khutbah Idul Adha pagi ini dengan berdoa kepada Allah swt:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.
اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ  وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari doa yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa’i).
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian
 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.


Khutbah Idul Adha 1432 H : Meningkatan Spirit Perjuangan dan Pengorbanan Demi Tegaknya Peradaban Islam
Khutbah idul adha ini tersimpan dalam file PDF. Unduk membukanya anda bisa menggunakan Adobe Reader atau juga bisa menggunakan Foxit Reader. Ukuran file Cuma 884 kb, jadi cukup cepata untuk bisa mendownload contoh khutbah ini. Silakan anda download melalui link di bawah ini.

Foto Reruntuhan Bangunan Rumah Nabi Muhammad SAW

Sosok manusia paling mulia dan paling berpengaruh sepanjang zaman tampil hidup di tengah-tengah masyarakat negeri Arab saat itu dengan penuh kesederhanaan. Sosok yang berakhlak mulia dan tidak pernah letih membimbing umatnya ini hidup bersama istri tercintanya Khadijah r.ha di rumah yang sederhana. Berikut foto-foto yang bisa kami tampilkan.

rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg
Ini adalah foto Rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah r.ha, tempat mereka berdua tinggal selama 28 tahun 

reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg
Di atas ini gambar sisa runtuhan rumah Nabi Saw & Sayyidah Khadijah r.ha yang dilihat lebih dekat. 

pintu-masuk-kmr-rasul-di-rmh-khadijah_o.jpg
Gambar di atas ini adalah runtuhan pintu masuk ke kamar Rasul Saw di rumah Sayyidah Khadijah r.ha 

tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg
Di atas ini adalah Gambar runtuhan tempat Sayyidah Fatimah r.ha, puteri kesayangan Rasulullah Saw dilahirkan. 

kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg
Gambar di atas adalah sisa runtuhan kamar Rasul Saw dan Sayyidah Khadijah r.ha 

mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg
Di atas ini adalah gambar runtuhan mihrab tempat Rasulullah saw bershalat. 

kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg
Gambar di atas ini adalah makam Sayyidah Khadijah r.ha (yang besar) dan puteranya, Qasim (yang kecil) di sudut

Catatan :
Sebagian besar foto-foto tersebut saya peroleh dari kitab : Ummul Mu’minin, Khadijah binti Khuwaylid, Sayyidah Fie Qalby al-Mushtafakarya DR. Muhammad Abduh Yamani yang telah diterjemahkan oleh penerbit Pustaka IIMaN dengan judul : Khadijah Drama Cinta Abadi sang Nabi. Penulis adalah mantan Menteri Penerangan Kerajaan Arab Saudi.
 
Sumber : http://www.smartnewz.info/2011/10/foto-rumah-nabi-muhammad-saw.html

3 Tips Sukses Hidup Seorang Muslim

Sukses adalah dambaan setiap orang. Sukses juga memiliki ukuran masing-masing. Setiap orang memiliki ukuran sukses yang berbeda-bebda. Tapi sebagian besar manusia mengukur kesuksesan dari keberhasilannya mengumpulkan harta kekayaan.

Namun tahukah anda? Bahwa hampir sebagian besar manusia akan mengukur kesuksesannya dengan kesuksesan orang lain. Apabila dia seseorang bisa memiliki sepeda motor, maka dia akan bilang “wah sukses benar temanku ini, dia bisa memiliki mbil”. Pun demikian dengan orang yang sudah bisa memiliki mobil akan memandang tingkat kesuksesan yang ada di atasnya.

Pola pikir seperti ini apabila tidak dikendalikan oleh tatanan agama, maka akan melahirkan sifat iri dengki dan bahkan ingin saling menjatuhkan satu sama lain. Beruntunglah bagi seorang muslim, karena memiliki rambu-rambu dalam menjalani kehidupan.

Sukses memang banyak ragamnya. Tapi sukses yang hakiki adalah sukses dalam pandangan Alloh SWT. Bagaimana agar sukses di hadapan Alloh SWT, berikut tipsnya, saya rangkum dalam 3 Tips Sukses Seorang Muslim.

3 Tips Sukses menjalani hidup ini bisa juga diartikan serbagai 3 cara menjalani kehidupan untuk menuju kesuksesan dunia dan akhiran. Apa itu? Sholat, Ikhtiar dan Syukur.

Pertama Sholat. Mengapa sholat? Mengapa bukan do’a? bukankah sebagian besar orang mengidentifikasikah hal pertama yang harus dilakukan adalah doa. Maka ada istilah doa dan usaha. Do’a siapa saja bisa berdoa. Entah itu muslim, nasrani atau mungkin bahkan orang yang tidak beragama saja bisa berdoa. Tapi sholat, hanya orang muslim yang menjalankan sholat.

Sholat, selain sebagai pondasi atau tiangnya agama juga sebagai pembeda antara yang muslim dengan yang bukan muslim. Jadi, kalau anda mengaku muslim tapi tidak melaksanakan sholat, maka tidak ada bedanya dengan yang bukan muslim.

Sholat juga sebagai media memohon kepada Alloh, media untuk mendekatkan diri kepada Alloh, media untuk berdiskusi dan mengadu kepada Alloh. Maka disebutkan Sholat Mi’rojul Muminin. Sholat adalah mirojnya atau fasilitas naiknya seorang mumin untuk bertema dengan Tuhannya.

Melalui sholat kita meminta kepda Alloh. Sholat harus memiliki tujuan. Jangan sholat tanpa makna. Ah, yang penting sholat, perkara Alloh mau memberi pahala atau tidak itu terserah Alloh, yang penting saya sholat manembah kepada Alloh. Sepintah mungkin kalimat ini sangat baik, tapi menurut saya sholat seperti ini akan menjadi tanpa makna dan tujuan.

Tujuan kita adalah Alloh. Mahabbah kepada Alloh. Taqorub kepada Alloh. Nah, seteleh dekat dengan Alloh mintalah. Karena Alloh juga memerintahkan kepada kita untuk meminta. Mintalah kepada-KU (kata Alloh), maka aku akan mengijabah atau mengabulkan.

Ikhtiar adalah tips yang kedua. Ikhtiar ini haru mengiringi sholat atau permintaan kepda Alloh. Sesering apapun dan selama apapun anda melakukan sholat atau memohon kepada Alloh, tanpa diiringi ikhtiar maka akan sia-sia. Kerena Alloh hanya akan memberikan apa yang telah diusahakan oleh manusia.

Kemudian yang ketiga adalah Syukur. Setelah kita memohon, meminta kemudia berikhtiar, maka Alloh akan mengabulkan hajat kita. Nah, syukur adalah cara menikmati keberhasilan bagi seorang muslim. Seorang muslim yang benar dalam keislamannya, syukur merupakan cara terindah untuk menikmatai hasil doa dan ikhtiarnya.

Syukur bukan hanya mengucap alhamdulillah kemudian sudah begitu saja. Selain memuji Alloh yang telah memberikan nikmat, kita juga perlu berbagi dengan sesama. Ingat, dalam keberhasilan yang reguk mungkin ada hak orang lain (kaum fakir miskin, yatim piatu dan dhuafa).

Selain berbagi, juga teruslah berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik lagi. Orang yang memperoleh keberhasilan dalam ikhtiarnya kemudian terdiam untuk menghabiskan hasil usahanya, bukan ciri seorang muslim. Tapi ketika dia sudah berhasil memperoleh hasil ikhtiarnya dia akan bangkit lagi untuk mencari yang lebih baik dari yang sudah ada. Dengan tujuan, bukan untuk kemaslahatan pribadi dan keluarga, tapi untuk kemaslahatan umat. Paling tidak untuk bisa membantu lingkunga sekitarnya yang tidak bisa sukses perti kita.

Semoga Alloh memberikan petunjuk kepada kita. Aamiin.

Pastor Masuk Islam Setelah Berdialog Dengan Sayyidina Ali

Diriwayatkan bahwa seorang utusan datang dari negeri Roma ke Madinah pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Di antara mereka ter­dapat seorang pastor Nasrani. Pastor itu datang ke masjid Rasulullah Saw sambil membawa kantong yang berisi emas dan perak. Di dalam masjid itu dijumpai ada Khalifah Abu Bakar dan beberapa sahabat dari Anshar dan Muhajirin. Pastor itu masuk dan mengucapkan salam serta melihat dengan seksama wajah para sahabat. Lalu dia berkata, “Mana di antara kalian yang menjadi khalifah Rasulullah dan penjaga agama kalian?” Lalu ditunjuklah Khalifah Abu Bakar. Lalu Pastor itu mendekati Khalifah Abu Bakar dan ber­kata, “Wahai tuan, siapa namamu?”
 
Khalifah Abu Bakar menjawab, “Atiq.”
Pastor bertanya, “Kemudian apa lagi?”
Khalifah Abu Bakar menjawab, “Shiddiq.”
Pastor bertanya, “Kemudian apa lagi?”
Khalifah Abu Bakar menjawab, “Aku tidak mengetahui nama selain itu.”
Pastor berkata, “Anda bukan yang aku tuju.” Khalifah Abu Bakar bertanya, “Apa keperluan­mu?”

Pastor menjawab, “Aku dari negeri Roma. Aku datang membawa kantung berisi emas dan perak. Aku ingin bertanya kepada penjaga umat ini tentang beberapa masalah. Jika dia dapat menjawab maka aku akan masuk Islam dan mentaati perintahnya. Dan ini hartaku di hadapan kalian aku berikan. tetapi jika dia tidak mampu menjawabnya maka aku akan kembali dan tidak akan masuk Islam.”

Khalifah Abu Bakar berkata, “Bertanyalah sesukamu.”
Pastor berkata, “Demi Allah. Aku tidak akan berbicara sebelum Anda memberiku keamanan dari kemarahanmu dan kemarahan teman-te­manmu.”

Khalifah Abu Bakar berkata, “Kamu aman dan tidak apa-apa. Katakanlah apa yang kamu ingin-kan!” Pastor berkata, “Beritahukan kepadaku ten­tang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak diketahui Allah.”

Khalifah Abu Bakar gemetar dan tidak mampu menjawab. Kemudian pastor itu bangun hendak ke luar. Sebelum pastor itu berlalu, Khalifah Abu Bakar berkata, “Wahai musuh Allah, sekiranya tidak ada janji tadi, niscaya aku basahi tanah ini dengan darahmu.”

Kemudian Salman al-Farisi bangun dan per­gi menjumpai Ali bin Abi Thalib yang tengah duduk bersama al-Hasan dan al­-Husain di tengah rumah. Salman menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Ali. Lalu Ali bin Abi Thalib bangun dan pergi ber­sama al-Hasan dan al-Husain sehingga sampai di masjid. Ketika orang-orang melihat Ali mereka bertakbir dan bertahmid. Mereka segera mendekati Ali. Lalu Ali masuk dan duduk. Kemudian Khalifah Abu Bakar berkata, “Wahai pastor, bertanyalah kepa­danya. Dialah temanmu dan yang kamu cari.”

Kemudian pastor itu menghadap Ali dan berkata, “Wahai lelaki, siapa namamu?”

Ali menjawab, “Namaku dika­langan Yahudi adalah Ilyan dan dikalangan Nasrani adalah Iliya. Sedangkan menurut ayah­ku namaku adalah Ali dan menurut ibuku ada­lah Haidar.”

Pastor bertanya, “Apa hubunganmu dengan nabimu?”

Ali menjawab, “Dia adalah sau­daraku, mertuaku dan Putra pamanku.”

Pastor herkata, “Kamu adalah temanku demi Tuhannya Isa. Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak diketahui Allah?”

Ali menjawab, “Kamu telah me­nemui seorang ahli. Yang tidak dimiliki Allah adalah bahwa Allah Mahaesa, tidak memiliki pasangan dan anak. Yang tidak ada pada Allah adalah perbuatan zhalim terhadap siapa pun (apa pun). Dan yang tidak diketahui Allah adalah Allah tidak mengetahui adanya sekutu bagi­Nya dalam kerajaan-Nya.”

Pastor itu bangun lalu memegang kepala Ali dan menciumi antara kedua matanya, seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah dan engkau adalah pengganti dan penjaga umat ini. Engkau adalah sumber agama dan hikmah. Aku telah membaca dalam Taurat namamu adalah Ilyan, dalam Injil adalah Iliya. Aku yakin bahwa kamu adalah pewaris Nabi dan pemimpin. Kamu lebih pantas di tempat ini

dari yang lain. Beritahukan kepadaku bagai­mana keadaanmu clan keadaan kaummu?”

Sayyidina All menjawab pertanyaan itu dengan sebuah penjelasan. Lalu pastor itu bangun dan menyerahkan seluruh hartanya ke­pada Sayyidina Ali, kemudian kembali ke kaumnya dalam keadaan Muslim.[www.wisdoms4all.com]

Ada Perbedaan Jadwal Puasa

Ada perbedaan jadwal puasa untuk tahun 1432 H. Perbedaan kali ini bukan terletak pada penentuan 1 Roamdhon.

Kalau tahun lalu umat muslim di Indonesia ramai sekaligus bingung karena ada perbedaan penentuan 1 syawal antara pemeritah (Kementerian Agama) dan salah satu Ormas Islam besar dan berpengaruh di Indonesia (Muhammadiyah), kali ini alhamdulillah penentuan 1 Romadhon tidak ada pebedaan. Seluruh umat muslim Indonesia serentak melaksanakan puasa Romadhon pada tanggal 1 Agustus 2011.

Perbedaan jadwal puasa yang terjadi kali ini adalah pada jumlah hari menjalankan ibadah puasa. Hal ini terlihat dari jadwal puasa yang dibagikan dengan sumber dari pemerintah dan jadwal puasa yang dibagikan oleh Muhammadiyah.

Jadwal puasa yang dibagikan degan sumber pemeritah genap 30 hari, sedangkan jadwal puasa yang dibagikan oleh Muhammadiyah hanya sampai tanggal 29 saja. Itu artinya kalau semisal tidak ada perubahan lagi dari pemerintah akan terjadi perbedaan pada penentuan 1 Syawah 1432 H.

Meskipun perbedaan anatara Pemerintah dan Muhammadiyah kerap terjadi, tapi tetap aja akan menimbulkan sedikit gesekan di tengah masyarakat. Tapi semoga dengan sering terjadinya perbedaan, bangsa Indonesia umat Islam pada khususnya semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan.

Yang mau taat dengan putusan pemerintah taati dan laksanakan serta hormati yang tidak sepaham atau sejalan dengan yang taat dengan pemerintah, begitu juga sebaliknya. Tidak perlu memobilisasi massa untuk memperlihatkan bahawa keputusan yang diambilnya memiliki banyak pengikut.
Wallohu ‘alam….

Apakah Benar Setan Dibelenggu?

Apakah Benar setan dibelenggu? Bagaimana anda mempercayai kalau setan dibelenggu pada bulan suci Romadhon. Apa alasan anda? Anda akan bilang ada hadits nabi yang mengatakan. Mari kita simak kisa berikut ini.

Ada dua orang gadis remaja yang sedang beranjak dewasa. Yang satu taat beribadah yang satu lagi islam cuma di KTP doang.

Suatu hari gadis yang islamnya cuma KTP doang sebut saja Melati hendak pergi jalan-jalan sore di bulan suci Romadhon. Mungkin akan ngabuburit, meskipun entah dia puasa atau tidak.

Dia berpakaian yang sangat menantang. Memakai baju ketat yang memperlihatkan semua lekuk tubuhnya yang indah. Memakai rok mini yang 15 CM di atas lutut. Kulit paha yang putih mulus jelas terlihat. Lekukan tubuh yang indah begitu sangat mempesona. Sungguh kecantikan lahiriah yang sempurna.

Kemudian dia berpamitan pada temanya sebut saja Sholehah. Mengetahui temannya akan pergi dengan berpakain yang serba merangsang, sholehah mengingatkan.
"Melati, sebaiknya kamu jangan pergi dengan berpakai seperti itu". Melati bertanya. "Emang kenapa???".
Sholehati mejelakan. Caramu berpakain hanya akan mengundang tindak kejahatan, mungkin kamu akan menjadi bahan pelecehan seksual atau bahkan diperkosa, atau paling tidak kamu akan mengganggu kekhusyuan para lelaki mukmin yang sedang berpuasa".

"Bukankah setan di bulan puasa itu dibelenggu oleh Alloh? Jadi tidak mungkin orang-orang berbuat jahat apalagi sampai memperkosa saya. Karen setan sang biang kejahatan sudah dibelenggu tidak berdaya". Melati menjawab dengan enaknya.

"Hmmm.... ya sudahlah, silakan pergi". Jawab Sholehati singkat.

Singkat kata Melati sudah pulang dari jalan-jalan sore (ngabuburit). Dia pulang dengan wajah lusuh, dan ketika di sapa oleh Sholehati dia menangis terisak.

"Kenapa kamu?" Tanya melati.
"Saya tadi dijalan di ganggu sama para laki-laki, mereka mencolek, memegang dan meremas semua yang ada ditubuhkan, bahkan saya hampir diperkosa. Sekarang saya ragu, Apkah Benar Setan Dibelenggu???"


Sholehati terdiam sejenak, kemudian menjawab. "Alloh sudah membelenggu para setan laknatulloh, tapi kemuidan kamu membebaskannya".

Itulah kisah fiksi yang super singkat dari saya tentang Apakah Benar Setan Dibeleunggu, semoga bermanfaat.

Bagaimana Caramu Beribadah

Ibadah tidak lepas dari keseharian kita. Entah itu siapa saja dan agama apa saja. Karena saya orang Islam, saya akan menyoroti masalah ibadah pada pemeluk agama Islam. Kalau saya mengobok-obok cara ibadah agama lain akan menjadi tidak pantas.

Bagaimana caramu beribadah??? Pertanyaan ini terinspirasi oleh sebuah komentar pembaca di situs Muslim.Or.Id. Berikut komentar dia :

Yulian Purnama
#HADI
Aktifitas berikut bukanlah aktifitas ibadah:
- Mengumpulkan lembaran menjadi kitab
- Membaca buku
- Berinternet
- Menelpon dengan HP
- Pergi dengan pesawat terbang
Sedangkan yang dilarang dalam Islam adalah bid’ah dalam aktifitas ibadah.
Silakan simak:
http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html
Kalau memang bapak gemar membaca kitab Shoheh para imam hadits, akan bapak temukan banyak hadits yang melarang bid’ah.
Sebagai orang yang gak ngerti banget masalah agama saya tertarik dengan komentar ini. Kemudian saya membuat tanggapan atas komentar tersebut seperti ini :

To : Yulian Purnama
Maaf saya ikut berbiacara. Saya tidak bisa berbicara basa basi. Langsung aja. Saudara Yulian sudah mempersempit makna ibadah (makna/ bukan arti) Sepertinya saudara Yulian memaknai ibadah hanya sebatas pada aktifitas ritual saja. Bukankah Nabi juga mengatakan senyum adalah ibadah. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah Senyum suatu aktifitas ritual??? Dari semua yang saudara sampaikan :
Aktifitas berikut bukanlah aktifitas ibadah:
- Mengumpulkan lembaran menjadi kitab
- Membaca buku
- Berinternet
- Menelpon dengan HP
- Pergi dengan pesawat terbang

Saya berikan sanggahan, semoga berkenan.
- Mengumpulkan lembaran menjadi kitab menurut saya adala ibadah, bayangkan kalau lembaran-lemabaran yang dijadikan kitab (buku) itu memberikan manfaat untuk banyak orang apa itu bukan suatau ibadah???
- Membaca buku menurut saya juga ibadah, kalau kita membaca buku untuk mempekaya khasanah keilmua kita. Bukankah menuntu ilmu ada tuntunannya baik dalam hadits maupun al-quran. Apa itu bukan ibadah???
- Berinternet kalau didasar niat baik dan untuk kebaikan menurut saya bisa menjadi ibadah. Termasuk blog ini menyampaikan apa yang hak (menurut pengakuan admin dan para pendukungnya) itu juga merupakan kegiatan ibadah. Mengapa menurut anda bukan ibadah???
- Menelpon dengan HP, kalau itu untuk kebaikan juga menjadi ibadah. Contoh saya menjelaskan tentang sutatu hukum melalui HP, apa itu bukan ibadah??? Lalau apa kalau nelpon pake telpon rumah menurut anda ibadah???
- Pergi dengan pesawat terbang juga ibadah kalau itu dilakukan untuk kebaikan dan ketaatan kepada Alloh. Contoh naik pesawat terbang mau naik haji, apa itu bukan serangkaian dari kegiatan ibadah???

Mohon penjesalannya dari anda yang ‘alim. Terima kasih.
Sampai diterbitkannya tulisan ini, komentar saya masih di moderasi. Saya ingin bertanya kepada diri saya sendiri dan pada anda para pembaca, Bagaimana Caramu Beribadah. Apakah ibadah hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan ritual saja (sholat, dzikir, puasa dan kegiatan ritual lainnya)???

Saya berpendapat, apapun kegiatan kita kalau kita niati untuk kebaikan dan dengan cara yang baik serta niat karena taat dan patuh pada kehendak Alloh itu bernilai ibadah. Saya yakin Tuhan Agama manapu pasti mengajarkan untuk berbuat baik untuk sesama dan alam semesta. Nah kalau kita berbuat baik dengan cara yang baik, bukankah itu sebuah bentuk ketaatan kepada Tuhan. Contoh, saya mengumpulkan berbagai macam artikel tentang cara pengobatan tradisional, kemudian saya membukukan dan mebagikannya kepada orang lain. Dari kegiatan saya mengumpulkan dan membukukan artikel tersebut saya niati untuk kebaikan umat. Apakah yang demikian bukan ibadah??? Saya rasa itu juga bernilai ibadah.

Bagaimana pendapat anda???

Buku Putih Kyai NU Vs Buku Meluruskan Kesalahan Buku Putih Kyai NU

Buku Putih Kyai NU dan Buku Meluruskan Kesalahan Buku Putih Kyai NU adalah dua buku yang ditulis oleh orang yang berbeda dan dengan isi yang berbeda juga. Isinya jelas sangat bersebarangan. Sebelum saya menulis dengan mengmbil beberapa paragraf tulisan dar sorang penulis berkompeten, saya ingin memperkenalkan dulu secara singkat dari kedua buku di atas.

Buku Putih Kyai NU kabarnya adalah buku yang ditulisa oleh orang Nahdliyin yang kemudian keluar dari Nahdliyin atau baralih aliran. Sedangkan Buku Meluruskan Kesalahan Buku Putih Kyai NU merupakan buku yang ditulis oleh Tokoh NU yang masih setia dengan ke-NU-annya dan mencoba memberikan jalan terang dari jalan gelap yang diberiakn oleh Buku Putih Kyai NU.

Berikut adalah keterangn singkat dari Buku Meluruskan Kesalahan Buku Putih Kyai NU:
Judul: Meluruskan Kesalahan Buku Putih Kyai NU
Penulis: Tim FBMPP Kediri
Penerbit: Bina Aswaja
Distributor: Khalista Surabaya
Cetakan: I Mei 2011
Tebal: 292 Halaman
Peresensi: Junaidi*

Catatan : saya belum membaca dari kedua buku kotroversi di atas.
Informasi tentang buku di atas saya dapat dari situ NU Online. Apa yang menjadi perdebatan atau kontroversi dari kedua buku di atas??? Tiada lain adalah masalah ibadah dan bid’ah. Buku Putih Kyai NU adalah buku yang mempropagandakan bahwa semua perbuatan bid’ah adalah sesat dan pasti masuk neraka. Tulisan ini saya sambung dengan tulisan yang saya ambil dari situs Online NU. Tulisan dibawah ini saya cuplik dari
http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/32698/Buku/Kontroversi_Umat_Islam.html
--- Penulis adalah Mahasiswa Department of English Literary IAIN Sunan Ampel Surabaya---
Namun, yang perlu kita ketahui dan pahami bahwasanya tidak semua bid’ah itu jelek, namun bid’ah ada yang baik. Jadi, segala sesuatu yang belum pernah dilakukan sejak pada masa nabi Muhammad Saw., atau belum pernah adanya kejelasan dari Alquran maupun Alhadits bukan berarti semua bid’ah/haram sebagaimana yang ditegaskan oleh penulis buku “Buku Putih Kyai NU”, sehingga penilaian bid’ah dengan tanpa pemilihan merupakan pangkaburan terhadap hukum syari’ah Islam.

Dalam upaya menilai sesat warga Nahdliyyin, penulis Buku Putih Kyai NU ini tidak segan-segan mengumbar kata-kata general bahwa semua bid’ah adalah sesat. Implikasinya semua amaliyah warga Nahdliyyin yang telah diwariskan dari ulama’ salaf terdahulu ia katakana bid’ah. Ia sendiri telah mengaku kalau sekarang telah keluar dari perilaku syirik.
Hal ini berarti pengakuan bahwa ia sebelumnya telah berkubang dalam lumpur bid’ah dan kemusyrikan. Padahal ia sendiri telah terjebak dalam kesesatan paham Wahhabi. Dia tidak menyadari apa yang telah ia perbuat dalam kesehariaanya. Jika memang akan memfonis seseorang dengan perilaku bid’ah, sebenarnya dirinya itu telah mealakukan bid’ah, seperti makan nasi, pada masa nabi Muhammad Saw. tidak ada nasi, yang ada hanya roti atau kurma sebagai makanan pokoknya.

Buku yang berjudul “Meluruskan Kesalahan Buku Putih Kyai NU” dikemas dengan beberapa pemikiran-pemikiran yang bisa diterima oleh akal dan masyarakat luas mengenai suatu pendapat dalam buku “Buku Putih Kyai NU” yang dianggap telah menyimpang dan tidak sesuai dengan kehidupan ummat Islam, khususnya warga Nahdliyyin yang ada di Indonesia ini.
Selama ini, ummat Islam warga Nahdliyyin yang membaca buku “Buku Putih Kyai NU” merasa diresahkan dengan sebuah pendapat penulisnya yang mengkafirkan pelaku bid’ah, seperti membaca tahlil, tawassul kepada orang yang telah meninggal dunia. Padahal itu merupakan sebuah perantara dengan meminta sambung doa, agar doa kita terkabulkan oleh Allah Swt.

Buku ini selain memberikan pelurusan terhadap buku yang berjudul “Buku Putih Kyai NU” yang isinya mengkafirkan para pelaku bid’ah, juga memberikan sumbangsih bagi kita sebagai pembaca dalam hal mengutarakan sebuah pendapat dengan rasional dan bisa diterima oleh masyarakat luas. Buku ini memberikan contoh-contoh yang bisa kita jadikan sebagai pegangan hidup mengenai pendapat yang irrasional kemudian diluruskan menggunakan pendapat lain yang rasional dengan menuggunakan dalil-dalil yang cukup mendukung.